Harusnya kamu ada menemani aku, sejuta kenangan bersama mu kini hanyalah kenangan.
Ku rasa keputusan kamu adalah sebuah keputusan serakah.
Karena kehadiran kamu dalam hidup ku, membuat dunia ini bertekuk lutut pada ku.
Hari demi hari kau selalu membayangi langka hidupku.
Rindu akan kamu telah menyelimuti wajahku, kesedihan akan kisah kita tak perna pudar.
Meskipun kau hanyalah manusia biasa namun bagiku kau adalah jelmahan dewi penghibur.
Cinta yang kamu berikan seakan sedang menghipnotis aku.
Mau makan teringant kamu,
Mau minum lagi-lagi teringat kamu
Kadangkalah lamunan pun tak mau kalah.
Jujur bagi saya kamu terlalu sempurna, meski di luar sana banyak orang yang bilang kalau tidak ada manusia yang sempurna.
Seharusnya kamu tidak hadir dalam kehidupan ku,
Seharusnya kamu sadar kalau cinta ku tulus hanya untuk mu.
Oleh karena itu, Seharusnya aku bukan tempat persinggahan kamu.
Satu saja mintah ku, jangan perna lupa akan aku
See you ……………………….muachhhhhhhhhhhhhh
Indahnya Waktu Itu,
Senin, 06 Desember 2010
Diposting oleh
rigo deto
di
23.31
1 komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
CINTA
Anatara dusta dan Kebenaran
(antara pejabat, mahasiswa, dan uang )
Ibarat mata rantai yang dapat terpisahkan. itulah pejabat dan mahaiswa.
Pejabat selalu melakukan apa yang ia inginkan. Ketika dia berbicara semua mata teruju hanya kepadanya. Ketika ia melangkakan kakinya selalu saja di lindungi oleh orang bersenjata. Meskipun Ia sering dikatan pencuri kelas kakap.
Mahasiswa memiliki kekuatan daya berfikir kiritis.
Kesehariannya dihabiskan hanya untuk menegur mereka yang dianggap “salah” memberdayakan Masyarakat. Antara pejabat dan mahasiwa tidak perna ada titik temuhnya. Pajabat dibuat tidak bisa tidur oleh mahasiswa yang katanya pencinta “kebenaran”.
Masalah seperti ini menjadi pemasalahan tersendiri bagi pihak pejabat, mereka dipaksa untuk mencari solusi terbaik antara mereka dan musuh bubuyutan mereka, mahasiswa.
Bagi pejabat ketika uang berbicara, maka teriakan mahasiswa akan padam dengan sendirinya. Bagi mahasiswa asalkan ada uang kami akan diam.
Di tahap ini yang menjadi tujuan utama adalah kepentingan pribadi. Kepentingan pribadi membuat mata kedua kubuh menjadi buta.
MENDEMO DAN DIDEMO, itu adalah ciri khas untuk menggambarkan perbedaan antara mahasiswa dan pejabat. Mahasiswa melakukan demonstrasih kepada pejabat, kemudian setelah si mahasiswa menjadi pejabat malah ia yang balik didemo oleh mahasiswa yang lain.
Hal MENDEMO DAN DIDEMO sudah menjadi tradisi baru di dunia pendidikan dan dunia pemerintahan. Mendemo dan didemo dijadikan untuk memperoleh kepentingan pribadi dengan mengorbankan yang tidak bersalah (yang ikut arus dalam berdemo)
Sangat disesalkan hal seperti ini terus berlanjut, Mendemo dan Didemo telah menjadi suatu budaya baru ketika semua orang mempertahankan egonya masing-masing. Budaya semacam ini harus dibuang jauh-jauh.
Jadilah pejabat yang benar-benar memerintah, jadilah mahasiswa yang benar-benar terpelajar. Karena yang dituntut oleh masyarakat bukalah pejabat jadi-jadian dan bukan mahasiswa KTP.
Pejabat seharus berjalan sesuai jalurnya , demikian juga dengan Mahasiswa.
Jika diperlombahan lari tidak diperbolehkan mencuri jalur , maka mengapa tidak hal demikian diconto oleh pejabat dan mahasiswa untuk tidak keluar dari jalurnya ? Kan kalau begitu aman tanpa masalh. dan bukan aman meski ada masalah.
Alangkah baiknya dipenjara karena membelah kebenaran , bukan karena melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan.
KEJAHATAN TERJADI BUKAN HANYA KARENA NIAT MELAIKAN ADA KESEMPATAN.
TETAPI KEJAHATAN DAPAT DICEGAH
Ibarat mata rantai yang dapat terpisahkan. itulah pejabat dan mahaiswa.
Pejabat selalu melakukan apa yang ia inginkan. Ketika dia berbicara semua mata teruju hanya kepadanya. Ketika ia melangkakan kakinya selalu saja di lindungi oleh orang bersenjata. Meskipun Ia sering dikatan pencuri kelas kakap.
Mahasiswa memiliki kekuatan daya berfikir kiritis.
Kesehariannya dihabiskan hanya untuk menegur mereka yang dianggap “salah” memberdayakan Masyarakat. Antara pejabat dan mahasiwa tidak perna ada titik temuhnya. Pajabat dibuat tidak bisa tidur oleh mahasiswa yang katanya pencinta “kebenaran”.
Masalah seperti ini menjadi pemasalahan tersendiri bagi pihak pejabat, mereka dipaksa untuk mencari solusi terbaik antara mereka dan musuh bubuyutan mereka, mahasiswa.
Bagi pejabat ketika uang berbicara, maka teriakan mahasiswa akan padam dengan sendirinya. Bagi mahasiswa asalkan ada uang kami akan diam.
Di tahap ini yang menjadi tujuan utama adalah kepentingan pribadi. Kepentingan pribadi membuat mata kedua kubuh menjadi buta.
MENDEMO DAN DIDEMO, itu adalah ciri khas untuk menggambarkan perbedaan antara mahasiswa dan pejabat. Mahasiswa melakukan demonstrasih kepada pejabat, kemudian setelah si mahasiswa menjadi pejabat malah ia yang balik didemo oleh mahasiswa yang lain.
Hal MENDEMO DAN DIDEMO sudah menjadi tradisi baru di dunia pendidikan dan dunia pemerintahan. Mendemo dan didemo dijadikan untuk memperoleh kepentingan pribadi dengan mengorbankan yang tidak bersalah (yang ikut arus dalam berdemo)
Sangat disesalkan hal seperti ini terus berlanjut, Mendemo dan Didemo telah menjadi suatu budaya baru ketika semua orang mempertahankan egonya masing-masing. Budaya semacam ini harus dibuang jauh-jauh.
Jadilah pejabat yang benar-benar memerintah, jadilah mahasiswa yang benar-benar terpelajar. Karena yang dituntut oleh masyarakat bukalah pejabat jadi-jadian dan bukan mahasiswa KTP.
Pejabat seharus berjalan sesuai jalurnya , demikian juga dengan Mahasiswa.
Jika diperlombahan lari tidak diperbolehkan mencuri jalur , maka mengapa tidak hal demikian diconto oleh pejabat dan mahasiswa untuk tidak keluar dari jalurnya ? Kan kalau begitu aman tanpa masalh. dan bukan aman meski ada masalah.
Alangkah baiknya dipenjara karena membelah kebenaran , bukan karena melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan.
KEJAHATAN TERJADI BUKAN HANYA KARENA NIAT MELAIKAN ADA KESEMPATAN.
TETAPI KEJAHATAN DAPAT DICEGAH
Diposting oleh
rigo deto
di
23.17
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
peringatan
Langganan:
Postingan (Atom)
